Dampak Melemahnya Rupiah Pada Kenaikan Harga Obat dan Alkes

peran.id – Nilai tukar Rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat menembus angka Rp18.000 per 1 USD, dan hal ini diprediksi akan berdampak signifikan terhadap layanan kesehatan di Indonesia. Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, mengungkapkan lima potensi dampak yang perlu diperhatikan sebagai respon atas lonjakan nilai tukar ini.

Pertama-tama, menurut Tjandra, kenaikan harga obat-obatan akan menjadi dampak yang paling terasa. Sebagian besar bahan baku obat di Indonesia masih diimpor, sehingga pemerintah berupaya mengendalikan harga dengan memperlonggar izin pengadaan, yang memungkinkan industri farmasi mencari pasokan dari negara lain dengan harga lebih kompetitif.

Dampak kedua yang diantisipasi adalah peningkatan biaya diagnostik. Harga reagen, cartridge, dan test strip yang diperlukan untuk pemeriksaan laboratorium diprediksi akan naik akibat ketergantungan pada bahan impor. Selanjutnya, biaya operasional untuk alat kesehatan canggih di rumah sakit juga diharapkan meningkat, menjadi dampak ketiga dari situasi ini.

Lebih jauh, Tjandra menyoroti dampak non-fisik yang dapat muncul, seperti tekanan finansial yang berpotensi memicu stres dan gangguan kesehatan mental bagi masyarakat yang terdampak secara ekonomi. Terakhir, dampak jangka panjang bisa membuat daya beli masyarakat terhadap makanan bergizi dan akses layanan kesehatan menurun drastis jika kondisi ini tidak segera membaik.

Ia menekankan pentingnya pemulihan stabilitas ekonomi demi menjaga ketahanan kesehatan bangsa, menegaskan bahwa situasi ekonomi yang membaik akan berpengaruh langsung pada kesehatan masyarakat Indonesia.