Ketahanan Energi Nasional Masih Rentan Di Tengah Tantangan Global

peran.id – Ketahanan energi nasional Indonesia masih dinilai rapuh di tengah tekanan geopolitik global, ketidakpastian regulasi, dan lambatnya transisi menuju energi bersih. Penilaian ini disampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Navigasi Ketahanan Energi Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik” yang berlangsung pada Senin, 25 Mei 2026, di Hotel 88 Fatmawati, Jakarta Selatan.

Dalam acara tersebut, tiga narasumber mengungkapkan tantangan signifikan yang dihadapi Indonesia, antara lain perubahan kebijakan di sektor pertambangan, pengembangan energi terbarukan yang lambat, serta kondisi fiskal yang mengkhawatirkan. Ketua Bidang Hubungan Industri Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Ardhi Ishak Koesen, menyoroti beratnya tekanan pada industri pertambangan akibat perubahan regulasi yang datang beruntun.

Ardhi menjelaskan bahwa proyeksi produksi batu bara nasional yang sebelumnya ditargetkan mencapai 817 juta ton pada 2025 terpaksa dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, atau turun sekitar 25%. Ia menambahkan bahwa perubahan kebijakan baru, seperti rencana pajak ekspor batu bara dan pengaturan Devisa Hasil Ekspor (DHE), semakin membebani pelaku industri.

Meski tantangan besar menghadang, Ardhi mengungkapkan bahwa Indonesia masih memiliki keunggulan dalam hal cadangan batu bara, yang diperkirakan mampu bertahan hingga 46 tahun dengan asumsi produksi sekitar 700 juta ton per tahun. Namun, ketergantungan yang tinggi terhadap batu bara menjadi masalah di tengah tekanan global untuk beralih ke energi yang lebih bersih. Situasi ini mengharuskan pemerintah dan industri untuk beradaptasi agar ketahanan energi nasional dapat terjamin di masa depan.